Jumat, 12 Juli 2013

Pengertian Digital Forensic

Untuk mengimplementasikan berbagai skema sistem forensika digital, maka ketersediaanDigital Forensic Laboratory adalah merupakan sesuatu hal yang sangat diperlukan. Dalam penangan kasus-kasus yang melibatkan digital evidance, Digital Forensic Laboratory akan menjadi bagian penting dari sebuah sistem peradilan modern.

Saat ini tersedia berbagai produk aplikasi / tools untuk kepentingan forensika digital. Sebagian aplikasi hanya berfokus pada pada beberapa fungsi utama sementara sebagian yang lain memungkinkan melakukan sejumlah fungsi. Ada pula aplikasi yang secara khusus menangani area bukti digital tertentu, seperti email, internet, gadget. Sebagaimana umumnya aplikasi komputer, aplikasi / tools untuk kepentingan forensika digital juga terbagi pada kelompok opensource dan komersil. Masing-masing kelompok memiliki kelebihan dan kekurangannya, karena itu sangatlah dianjurkan kita tidak bergantung hanya pada satu kelompok tools saja. Seorang ahli forensika digital harus secara cermat menentukan tools yang digunakan agar proses presentasi barang bukti digital dapat diterima oleh semua fihak. Dalam hal ini, tools forensika digital yang baik dapat berfungsi sebagaimana “Swiss Army Knife”, pisau lipat multifungsi.

Untuk kelompok tools open source, yang banyak digunakan adalah tools SIFT (SANS Investigative Forensic Toolkit). Aplikasi ini berjalan diatas OS Linux Ubuntu, termasuk tools yang sangat powerfull, tidaklah heran bila kemudian organisasi resmi yang menangani bidang forensika digital / digital evidance menjadikan tolls SIFT ini sebagai tools standarnya. Sejauh informasi yang saya ketahui, Bareskim Polri telah memiliki sejumlah tenaga certified untuk tools SIFT. Info lengkap tentang SIFT bisa dilihat di alamat berikut ini :

http://computer-forensics.sans.org/community/downloads

Sementara untuk kelompok aplikasi komersial, tools FTK dari AccessData dan EnCase dariGuidance Software adalah dua diantara sekian banyak tools yang sering dijadikan sebagai tools utama. Dua aplikasi tersebut dijuluki sebagai Swiss Army Knife -nya tools forensika digital. Walaupun tetaplah diakui tidak ada satu aplikasipun yang bisa melakukan apapun, namun dua aplikasi tersebut dapat mewakili kemampuan sejumlah langkah dasar untuk kepentingan forensika digital.

Pada sudut pandang lain, seorang ahli forensika digital akan berusaha untuk menjaga keaslian dari proses terbentuknya bukti digital. Dalam hal ini tentunya bukti-bukti digital yang dihasilkan dalam sebuah lingkungan windows akan jauh lebih baik bila di tangani dalam lingkungan yang sama, demikian juga dengan Linux, OSX dan sistem operasi lainnya. Sayangnya sebagian tools forensika digital banyak dikembangkan dalam lingkungan Windows dan Linux. Untuk lingkungan OSX / iOS/ Mac termasuk yang sangat jarang ditemukan tools forensika digital yang dikembangkan dalam lingkungan sistem operasi ini. Untuk itulah ketersediaan dua aplikasi berikut ini sangatlah membantu bagi ahli forensika digital untuk melakukan eksplorasi bukti digital dalam lingkungan OSX/iOS/Mac. Kedua aplikasi itu adalah :Mac Marshall dari Mac Marshall Architecture Technology dan Macquisition / Blacklight dari BlackBag Technology. Sayangnya kedua aplikasi forensika digital untuk Mac tersebut sifatnya adalah komersil dan hanya diberikan kesempatan menggunakan versi trialnya untuk 14H saja.

Selain sejumlah aplikasi forensika digital diatas, terdapat pula sejumlah tools dasar yang dapat digunakan untuk kepentingan langkah forensika digital, antara lain adalah :

SMART & SMART, multipurpose tools dari http://www.asrdata.com/forensic-software/software-download/
X-Ways Forensic, multipurpose tools dari http://www.x-ways.net/forensics/
Helix3 Pro, multipurpose tools dari http://www.e-fense.com/helix3pro.php
Raptor, Linux based dari http://www.forwarddiscovery.com/Raptor
Dossier Logicube fokus pada hardware acquistion, produk dari http://www.logicube.com/shop/forensic-dossier/
Tableau, spesifik untuk write blockers, storage, acquisition, produk dari http://www.tableau.com/index.php?pageid=products

Dasar-dasar Computer Forensic

 Tentu masih ingat dalam benak kita ketika tim Densus 88 berhasil menggali begitu banyak informasi dari laptop gembong teroris di Indonesia, Noordin M. Top. Bahkan dari sana kepolisian berhasil mendapatkan beberapa nama baru dan akhirnya berhasil menangkap dan melumpuhkan mereka. Nah, tentu kita bertanya-tanya bagaimana caranya kepolisian bisa mendapatkan data-data tersebut. Karena mengambil data-data apalagi dari laptop seorang gembong teroris tentu tidak sembarangan. Di situlah ilmu Computer Forensic digunakan.
Ketika kita mendengar tentang Computer Forensic maka yang terbayang adalah seorang penyidik kriminal yang sedang mengambil sesuatu dari komputer kemudian dimasukkan ke dalam plastik kemudian diberi label tertentu. Jarang sekali kita mendengar kata-kata itu di dalam kehidupan sehari-hari, seolah-olah hal tersebut hanya merupakan tugas dari kepolisian semata.
Dan kebetulan, ilmu yang mendasari Computer Forensic tidak berbeda jauh dengan ilmu yang mempelajari forensik untuk tindakan kriminal. Pada dasarnya, kedua-duanya memiliki tujuan yang sama yaitu untuk mendapatkan bukti kejahatan dan mencoba melihat apa yang telah terjadi, bagaimana terjadinya, kapan terjadinya, dan akhirnya dapat menemukan siapa yang bertanggung jawab.
Perbedaannya adalah ketika tim penyidik sedang menyelidiki Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan berusaha mendapatkan bukti fisik, tim Computer Forensic berusaha mendapatkan bukti-bukti digital berupa data-data ataupun file-file yang disinyalir berkaitan dengan tindakan kejahatan tersebut.
Pengertian Computer Forensic
Berikut ini merupakan beberapa pengertian dari Computer Forensik dari berbagai sumber:

Menurut Judd Robin, seorang ahli komputer forensik:
“Penerapan secara sederhana dari penyelidikan komputer dan teknik analisisnya untuk menentukan bukti-bukti hukum yang mungkin”.
New Technologies memperluas definisi Judd Robin dengan:
“Komputer forensik berkaitan dengan pemeliharaan, identifikasi, ekstraksi dan dokumentasi bukti-bukti komputer yang tersimpan dalam wujud informasi magnetik”.
Menurut Dan Farmer & Wietse Venema:
“Memperoleh dan menganalisa data dengan cara yang bebas dari distorsi atau bias sebisa mungkin, untuk merekonstruksi data atau apa yang telah terjadi pada waktu sebelumnya di suatu sistem”.
Wikipedia menerangkan bahwa:
“Komputer forensik adalah cabang dari ilmu forensik yang berkaitan dengan bukti-bukti legal yang ditemukan di dalam komputer serta media penyimpanan digital. Selain itu komputer forensik juga kerap disebut sebagai digital forensik.”
Sedangkan majalah Security Magazine memberikan pengertian:
“Komputer forensik merupakan teknik penyelidikan dan analisa komputer untuk mengumpulkan bukti-bukti yang sesuai untuk presentasi di dalam persidangan.”
Maka dari berbagai sumber di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
“Komputer Forensik adalah teknik atau metode untuk menemukan, mengidentifikasi, mengekstrasi, mengumpulkan, dan mendokumentasi bukti-bukti yang ada di dalam komputer khususnya pada media penyimpanannya yang kemudian dapat digunakan untuk pemrosesan selanjutnya.”
Penerapan Computer Forensic
Setelah mengetahui pengertian dari komputer forensik, maka kini dapat diketahui untuk apa saja penerapan dari komputer forensik ini, antara lain :

    Menemukan dan mengidentifikasi bukti-bukti hukum untuk kemudian digunakan dalam persidangan.
    Menemukan dan mengidentifikasi adanya penyimpangan atau penyalahgunaan sarana IT yang tidak sesuai dengan Tupoksi-nya.
    Me-recover dan menemukan kembali data-data yang hilang akibat kesengajaan maupun ketidaksengajaan user. Misalnya : salah memformat Hard Disk
    Sebagai salah satu pendukung kegiatan counter surveillance. Yaitu untuk mengetahui hardware dan software yang digunakan oleh lawan untuk melakukan spionase.

Mengapa harus menggunakan Computer Forensic?
Ketika bukti fisik mulai dirasa kurang, membingungkan, dan ambigu (janggal) dan sulit untuk digabungkan dengan pendapat para saksi, maka di sinilah Computer Forensic mulai beraksi, karena data-data yang disajikan akan cukup sulit untuk ditolak / ditampik, karena memiliki integritas yang tinggi.
Sebuah komputer selalu menyimpan log / rekaman kegiatan yang telah dilakukannya. Contohnya adalah selain browser history, juga terdapat temporary internet folder Anda, di mana informasi dari web disimpan di dalam komputer Anda. Dan bahkan jika ingin ditelusuri lebih jauh, track mengenai apa saja yang pernah Anda lakukan dengan komputer itu dapat dilacak melalui registry-nya. Jadi ketika seorang karyawan hanya menonton Youtube atau bermain Facebooksepanjang hari, sebenarnya hal tersebut direkam oleh komputer dan dapat dijadikan bukti untuk melakukan teguran kepada mereka. Hal tadi merupakan contoh nyata yang sederhana dari penggunaan Computer Forensic dalam kehidupan sehari-hari.
Yang patut dipahami adalah bahwa komputer akan senantiasa mencatat event apa saja yang terjadi ke dalam log-nya. Yang tercatat di sini cukup detil seperti waktu kejadian, aplikasi apa yang digunakan, serta file-file apa saja yang dibuka. Seteliti apa pun seorang pelaku untuk menghapus jejak kejahatan mereka, pasti tetap akan meninggalkan jejak. Seperti misalnya menghapus file, memformat Harddisk, me-Rename file, atau memberi password, tetap saja akan dapat dideteksi dengan Computer Forensic.
Yang biasanya menjadi keraguan adalah seberapa legal / sah bukti dalam bentuk digital yang diajukan dalam sebuah persidangan. Hal ini tentunya sudah diatur, yaitu dengan memperhatikan siapakah yang telah mengambil bukti, kemudian kronologis serta metode pengambilan bukti tersebut. Bila kesemuanya telah memenuhi standar, maka bukti akan mempunyai kekuatan hukum yang kuat. Tentang bagaimana prosedur pengambilan data digital secara benar akan saya jelaskan lain kali, karena ini akan bersifat teknis sekali.
Dan yang terakhir, saya cuma mengingatkan bahwa Computer Forensic tidak hanya melulu dilakukan oleh tim penyidik kepolisian untuk memperoleh bukti kejahatan, tetapi juga dapat kita lakukan untuk keperluan kita sehari-hari. Kita dapat untuk menemukan file yang terhapus secara tidak sengaja, mencari penyelewengan penggunakan komputer oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dengan memakai ilmu Computer Forensic ini.

sumber :http://kawuloalitox.wordpress.com/2009/10/11/dasar-dasar-computer-forensic/

Perbedaan Audit Through Computer, Audit Around The Computer dan Audit With The Computer

 Teknik Audit Berbantuan Komputer atau Computer Assisted Audit Technique dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:

    Audit Through The Computer
    Audit Around The Computer
    Audit With The Computer

Audit Through The Computer
Audit through the computer adalah audit yang dilakukan untuk menguji sebuah sistem informasi dalam hal proses yang terotomasi, logika pemrograman, edit routines, dan pengendalian program. Pendekatan audit ini menganggap bahwa apabila program pemrosesan dalam sebuah sistem informasi telah dibangun dengan baik dan telah ada edit routines dan pengecekan pemrograman yang cukup maka adanya kesalahan tidak akan terjadi tanpa terdeteksi. Jika program berjalan seperti yang direncanakan, maka semestinya output yang dihasilkan juga dapat diandalkan.
Audit Around The Computer
Audit around the computer adalah pendekatan audit dimana auditor menguji keandalan sebuah informasi yang dihasilkan oleh komputer dengan terlebih dahulu mengkalkulasikan hasil dari sebuah transaksi yang dimasukkan dalam sistem. Kemudian, kalkulasi tersebut dibandingkan dengan output yang dihasilkan oleh sistem. Apabila ternyata valid dan akurat, diasumsikan bahwa pengendalian sistem telah efektif dan sistem telah beroperasi dengan baik.
Jenis audit ini dapat digunakan ketika proses yang terotomasi dalam sistem cukup sederhana. Kelemahan dari audit ini adalah bahwa audit around the computer tidak menguji apakah logika program dalam sebuah sistem benar. Selain itu, jenis pendekatan audit ini tidak menguji bagaimana pengendalian yang terotomasi menangani input yang mengandung error. Dampaknya, dalam lingkungan IT yang komplek, pendekatan ini akan tidak mampu untuk mendeteksi banyak error.
Audit With The Computer
Audit jenis inilah yang sering disebut dengan teknik audit berbantuan komputer. Jika pendekatan audit yang lain adalah audit terhadap sistem informasinya, pendekatan audit with the computer adalah penggunaan komputer untuk membantu pelaksanaan audit. Singkatnya, ketika kita melaksanakan audit menggunakan ACL atau excel, itulah audit with the computer.



referensi: isaca.org

Perbedaan Auditing PDE dengan Auditing konvensional

Sebenarnya tidak ada perbedaan yang terlalu signifikan di antara audit PDE dengan audit konvensional. Dari segi pengertian, konsep, auditor, tujuan dan manfaat kedua jenis audit audit tidak jauh berbeda bahkan hampir terkesan sama. Berikut ini adalah definisi audit dari beberapa sumber:
Auditing adalah suatu proses sistematik yang bertujuan untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti yang dikumpulkan atas pernyataan atau asersi tentang aksi-aksi ekonomi dan kejadian-kejadian dan melihat bagaimana tingkat hubungan antara pernyataan atau asersi dengan kenyataan dan menkomunikasikan hasilnya kepada yamg berkepentingan. (PSAK - Tim Sukses UKT Akuntansi 2006)
Auditing adalah pengumpulan dan penilaian bukti mengenai informasi untuk menentukan dan melaporkan mengenai tingkatan kesesuaian antara infomasi tersebut dengan ketentuan yang ditetapkan serta dilakukan oleh orang yang berkompeten dan independen. (Arens dan Loebbecke)
Auditing adalah proses yang sistematis mengenai perolehan dan penilaian bukti secara obyektif yang berkenaan dengan pernyataan mengenai tindakan – tindakan dan kejadian – kejadian ekonomi dengan tujuan untuk menentukan tingkat kesesuaian antara pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan serta untuk mengkomunikasikan hasil – hasilnya kepada pihak – pihak yang berkepentingan. (American Accounting Association)
Auditing adalah suatu proses sistematik yang bertujuan untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti yang dikumpulkan atas pernyataan atau asersi tentang aksi-aksi ekonomi dan kejadian-kejadian dan melihat bagaimana tingkat hubungan antara pernyataan atau asersi dengan kenyataan dan menkomunikasikan hasilnya kepada yamg berkepentingan. (PSAK - Tim Sukses UKT Akuntansi 2006)
Pengertian auditing adalah suatu pemeriksaan yang dilakukan secara kritis dan sistematis, oleh pihak yang independen, terhadap laporan keuangan yang telah disusun oleh pihak manajemen beserta catatan-catatan pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya, dengan tujuan untuk dapat memberikan pedapat mengenai laporan kewajaran laporan keuangan tersebut (Sukrisno Agoes (1996:1))
Dari pengertian diatas kita dapat menarik kesimpulan mangenai pengertian auditing. Dari pengertian auditing diatas terdapat persamaan arti antara audit PDE dengan audit konvensional. Namun demikian ada sedikit perbedaan yang berlaku di antara keduanya. Weber memberikan definisi tersendiri mengenai audit PDE. Weber mengatakan bahwa Auditing PDE adalah suatu proses pengumpulan dan penilaian bukti untuk menentukan apakah suatu sistem komputer melindungi aktiva, mempertahankan integritas data, mencapai tujuan organisasi secara efektif, dan menggunakan sumber daya secara efisien. Defenisi tersebut lebih menekankan pada audit operasional yang berkaitan dengan aktivitas penggunaan komputer sebagai tool utamanya.
Secara umum Audit IT adalah suatu proses kontrol pengujian terhadap infrastruktur teknologi informasi dimana berhubungan dengan masalah audit finansial dan audit internal. Audit IT lebih dikenal dengan istilah EDP Auditing (Electronic Data Processing), biasanya digunakan untuk menguraikan dua jenis aktifitas yang berkaitan dengan komputer. Salah satu penggunaan istilah tersebut adalah untuk menjelaskan proses penelahan dan evaluasi pengendalian-pengendalian internal dalam EDP. Jenis aktivitas ini disebut sebagai auditing melalui komputer. Penggunaan istilah lainnya adalah untuk menjelaskan pemanfaatan komputer oleh auditor untuk melaksanakan beberapa pekerjaan audit yang tidak dapat dilakukan secara manual. Jenis aktivitas ini disebut audit dengan komputer
Audit IT sendiri merupakan gabungan dari berbagai macam ilmu, antara lain Traditional Audit, Manajemen Sistem Informasi, Sistem Informasi Akuntansi, Ilmu Komputer, dan Behavioral Science. Audit IT bertujuan untuk meninjau dan mengevaluasi faktor-faktor ketersediaan (availability), kerahasiaan (confidentiality), dan keutuhan (integrity) dari sistem informasi organisasi.

Ada beberapa alasan dilakukannya Audit IT :

Ron Webber, Dekan Fakultas Teknologi Informasi, monash University, dalam salah satu bukunya Information System Controls and Audit (Prentice-Hall, 2000) menyatakan beberapa alasan penting mengapa Audit IT perlu dilakukan, antara lain :

1.Kerugian akibatkehilangan data.
2.Kesalahan dalam pengambilan keputusan.
3.Resiko kebocoran data.
4.Penyalahgunaan komputer.
5.Kerugian akibat kesalahan proses perhitungan.
6.Tingginya nilai investasi perangkat keras dan perangkat lunak komputer.
CONTOH METODOLOGI AUDIT IT :
• BSI (Bundesamt für Sicherheit in der Informationstechnik)
• IT Baseline Protection Manual (IT- Grundschutzhandbuch )
• Dikembangkan oleh GISA: German Information Security Agency
• Digunakan: evaluasi konsep keamanan & manual
• Metodologi evaluasi tidak dijelaskan
• Mudah digunakan dan sangat detail sekali
• Tidak cocok untuk analisis resiko
• Representasi tdk dalam grafik yg mudah dibaca
Dari pengertian di atas dapat ditarik pemahaman tentang IT auditing:
• Ilmu yang berhubungan dengan pengumpulan fakta dan bukti pelanggaran keamanan sistem informasi serta validasinya menurut metode yang digunakan (misalnya metode sebab-akibat)
• Memerlukan keahlian dibidang IT ( termasuk diantaranya hacking) dan alat bantu (tools) baik hardware maupun software
Jadi, kesimpulannya Audit Manual dan Audit PDE adalah suatu proses penilaian dan atestasi yang sistematis oleh orang – orang yang memiliki keahlian dan independen terhadap informasi mengenai aktivitas ekonomi suatu badan usaha, dengan tujuan untuk menentukan dan melaporkan tingkat kesesuaian antara informasi tersebut dengan ketentuan yang telah ditetapkan.Perbedaan Audit Manual dengan audit PDE adalah :
1)Teknik audit
Audit PDE : Program khusus untuk penggunaan teknik audit manual (teknik audit yang menggunakan komputer sebagai tools utamanya)
Audit konvensional : Inspeksi, observasi, wawancara, konfirmasi, posedur analitis, vouching, verifikasi, rekonsiliasi, scanning, dsb.
2)Proses Audit
Audit PDE :Tidak sekuensial
Audit konvensional :Sekuensial
3)Waktu yang dibutuhkan
PDE :Lebih Cepat
Konvensional :Lebih lama
4)Audit Evidence
PDE :Lebih sulit dan rumit
Konvensional :Lebih rendah
5)Kesalahan yang berulang terus
PDE :Jejak audit mungkin hanya timbul untuk jangka waktu pendek atau dalam bentuk yang hanya bisa dibaca oleh komputer di mana program untuk masing – masing laporan keuangan adalah independen sehingga satu transaksi dapat diproses untuk beberapa tujuan secara simultan dari buku harian sampai dengan laporan keuangan.
Konvensional :Jejak audit terlihat secara fisik yang memungkinkan seseorang untuk mentrasir informasi akuntansi perusahaan yang besangkutan
6)Audit trail
PDE: Sering tidak ada pemisahan tugas tetapi tetap harus ada pengendalian alternative sehingga tidak memungkinkan orang yang sama menguasai transaksi dari awal hingga akhir tanpa campur tangan pihak lain.
Konvensional :Pemisahan tugas sebagai bentuk pengendalian wajib dilaksanakan untuk mendapatkan opini wajar tanpa pengecualian
7)Pemisahan tugas
PDE :Ketergantungan pada hardware dan software memunculkan potensial loss yang tinggi karena pengelolaan input, proses, output dan penyimpanan data dalam bentuk yang standar.
Konvensional :Kemungkinan potensial loss lebih kecil karena tersedianya jejak audit di samping pengelolaan input, proses, output, dan penyimpanan data yang terpisah
Ketergantungan pada software dan hardware
8)Audit risk
PDE :lebih besar karena:
- Pengolahan transaksi yang simultan dalam PDE
- Pengolahan yang tidak logis
- Kesalahan memasukan data, baik sengaja ataupun tidak, yang jk terakumulasi akan menjadi makin besar
Konvensional :lebih kecil karena:
- Pengolahan transaksi yang beragam
- Jika terjadi kejadian yang tidak wajar maka manusia akan segera mengetahuinya.
- Kesalahan memasukan data tidak terjadi berulang-ulang
Audit risk Manfaat penilaian internal control
Untuk memperoleh keyakinan bahwa:
- Desain dan implementasi program aplikasi telah dilaksanakan sesuai dengan otorisasi dan ketentuan manajemen
- Setiap perubahan pada program aplikasi telah diotoisasi dan disetujui oleh manajemen
- Terdapat peraturan yang memadai yang menjamin akurasi dan integritas dari pemrosesan oleh computer, laporan dan hal – hal lain yang dihasilkan oleh computer

- Sumber data yang tidak akurat telah diidentifikasikan dan telah diambil tindakan oleh manajemen

- Operator dan pihak- pihak yang mempunyai akses secara online terhadap system tidak dapat mengubah masukan, keluaran, program, maupun fail yang ada tanpa otorisasi yang sah
- Terdapat peraturan yang memadai untuk melindungi fail yang ada dari akses dan otorisasi yang sah - Memenuhi standar pekerjaan lapangan
- Merencanakan sifat audit
- Menentukan banyaknya waktu audit dan luasnya prosedur audit dalam pengujian substantive.
9)Manfaat penilaian IC
PDE :
- Audit around the computer
- Audit through the computer
- Audit with the computer
Konvensional :Melakukan pemeriksaan berdasarkan bukti fisik (dokumen / bukti) yang dimiliki perusahaan dengan melakukan beberapa teknik seperti konfirmasi, wawancara prosedur analitis,dsb)
10) Cara audit
PDE :Pengumpulan bukti audit yang handal lebih sulit karena perubahan dalam pengendalian intern dan beberapa teknik audit manual tidak dapat digunakan kecuali dengan teknik audit berbantuan komputer
Konvensional :Evaluasi bukti audit lebih sulit karena harus difahami kapan pengendalian internal berfungsi dan kapan tidak Pengumpulan bukti dengan teknik: inspeksi, observasi, wawancara, konfirmasi, posedur analitis, vouching, verifikasi, rekonsiliasi, scanning, dsb.
11)Pengendalian Intern
PDE :Selain general control,audit EDP juga menekankan kepada application control
Konvensional :Lebih menekankan kepada general control
12. Bukti Audit
PDE :Keahlian tentang auditing dan akuntansi ditambah keahlian tentang computer oleh salah seorang tim auditor
Konvensional :Dilakukan oleh seseorang yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang cukup sebagai seorang auditor
13. Keahlian auditor
PDE :Diperlukan keahlian dibidang komputer (PDE)
Konvensional :Tidak diperlukan keahlian dibidang komputer (PDE)

Sedangkan kalau ditinjau dari tahap-tahap yang ditempuh, audit PDE dan audit konvensional memiliki sedikit perbedaan. Menurut Arens, tahapan audit konvensional meliputi empat tahap sebagai berikut:
1. Merencanakan dan merancang pendekatan audit.
2. Pengujian pengendalian dan transaksi.
3. Melaksanakan prosedur analitis dan pengujian terinci atas saldo.
4. Menyelesaikan audit dan menerbitkan laporan audit.


Sedangkan menurut Anies S.M. Basalamah tahapan audit PDE terbagi menjadi 5 fase proses yang spesifik yaitu :
1. Perencanaan audit
2. Pemahaman terhadap lingkungan komputer
3. Mengevaluasi Pengendalian Intern
4. Pelaksanaan Pengujian Ketaatan dan Pengujian substantif
5. Penyelesaian audit


Ada dua catatan penting mengenai perbedaan tahap-tahap audit antara audit PDE dan audit konvensional. Kedua hal itu adalah mengenai pemahaman lingkungan komputer dan evaluasi pengendalian intern. Untuk pemahaman mengenai lingkungan komputer, hanya dikenal oleh audit PDE sedangkan untuk audit manual tahap ini tidak ditempuh. Evaluasi pengendalian intern antara audit PDE dan audit konvensional juga sedikit berbeda. Untuk audit PDE ada penekanan khusus pada application control di samping general control, hal ini tidak berlaku untuk audit konvensional.

IT AUDIT & FORENSIC

 IT Audit
Audit menurut Arens, et al. (2003) yang diterjemahkan oleh kanto Santoso Setiawan dan Tumbur Pasaribu adalah proses pengumpulan dan pengevaluasian bukti-bukti tentang informasi ekonomi untuk menentukan tingkat kesesuaian informasi tersebut dengan criteria-kriteria yang telah ditetapkan, dan melaporkan hasil pemeriksaan tersebut. IT Audit adalah suatu proses kontrol pengujian terhadap infrastruktur teknologi informasi dimana berhubungan dengan masalah audit finansial dan audit internal.IT audit lebih dikenal dengan istilah EDP Auditing (Electronic Data Processing), biasanya digunakan untuk menguraikan dua jenis aktifitas yang berkaitan dengan komputer. IT Audit merupakan gabungan dari berbagai macam ilmu, antara lain Traditional Audit, Manajemen Sistem Informasi, Sistem Informasi Akuntansi, Ilmu Komputer, dan Behavioral Science. IT Audit bertujuan untuk meninjau dan mengevaluasi faktor-faktor ketersediaan (availability), kerahasiaan (confidentiality), dan kebutuhan (integrity) dari sistem informasi organisasi.


Contoh prosedur dan lembar kerja IT audit.
Jenis IT Audit

    Sistem dan aplikasi:  untuk memeriksa apakah sistem dan aplikasi sesuai dengan kebutuhan organisasi, berdayaguna, dan memiliki kontrol yang cukup baik untuk menjamin keabsahan, kehandalan, tepat waktu, dan keamanan pada input, proses, output pada semua tingkat kegiatan sistem.
    Fasilitas pemrosesan informasi: untuk memeriksa apakah fasilitas pemrosesan terkendali untuk menjamin ketepatan waktu, ketelitian, dan pemrosesan aplikasi yang efisien dalam keadaan normal dan buruk.
    Pengembangan sistem: untuk memeriksa apakah sistem yang dikembangkan mencakup kebutuhan obyektif organisasi.
    Arsitektur perusahaan dan manajemen TI: untuk memeriksa apakah manajemen TI dapat mengembangkan struktur organisasi dan prosedur yang menjamin kontrol dan lingkungan yang berdaya guna untuk pemrosesan informasi.
    Client/Server, telekomunikasi, intranet, dan ekstranet:  untuk memeriksa apakah kontrol-kontrol berfungsi pada client, server, dan jaringan yang menghubungkan client dan server.

Contoh Metodologi IT Audit:
BSI (Bundesamt for Sicherheit in der Informationstechnik):
● IT Baseline Protection Manual (IT- Grundschutzhandbuch )
● Dikembangkan oleh GISA: German Information Security Agency
● Digunakan: evaluasi konsep keamanan & manual
● Metodologi evaluasi tidak dijelaskan
● Mudah digunakan dan sangat detail sekali
● Tidak cocok untuk analisis resiko
● Representasi tidak dalam grafik yg mudah dibaca
IT Audit Tools
Beberapa tool yang dipergunakan dalam IT Audit adalah:

    ACL  (Audit Command Language): software CAAT (Computer Assisted Audit Techniques) yang sudah sangat populer untuk melakukan analisa terhadap data dari berbagai macam sumber.
    Picalo : software CAAT (Computer Assisted Audit Techniques) seperti halnya ACL yang dapat dipergunakan untuk menganalisa data dari berbagai macam sumber.
    Powertech Compliance Assessment Powertech:  automated audit tool yang dapat dipergunakan untuk mengaudit dan mem-benchmark user access to data, public authority to libraries, user security, system security, system auditing dan administrator rights (special authority) sebuah serverAS/400.
    Nipper : audit automation software yang dapat dipergunakan untuk mengaudit dan mem-benchmark konfigurasi sebuah router.
    Nessus: sebuah vulnerability assessment software.
    Metasploit Framework : sebuah penetration testing tool.
    NMAP:  utility untuk melakukan security auditing.
    Wireshark: network utility yang dapat dipergunakan untuk meng-capture paket data yang ada di dalam jaringan komputer.

IT Forensik:
– Ilmu yang berhubungan dengan pengumpulan fakta dan bukti
pelanggaran keamanan sistem informasi serta validasinya menurut
metode yang digunakan (misalnya metode sebab-akibat)
– Memerlukan keahlian dibidang IT ( termasuk diantaranya hacking) –
dan alat bantu (tools) baik hardware maupun software
Tujuan IT Forensic

    Bertujuan untuk mendapatkan fakta-fakta obyektif dari sebuah insiden / pelanggaran keamanan sistem informasi.
    Fakta-fakta tersebut setelah diverifikasi akan menjadi buktibukti (evidence) yang akan digunakan dalam proses hukum.

Metodologi Umum Dalam Proses Pemeriksaan Insiden Sampai Proses Hukum
1. Pengumpulan data/fakta dari sistem komputer (harddisk, usb-stick, log, memory-dump, internet, dll) – termasuk di dalamnya data yang sudah terhapus.
2. Mendokumentasikan fakta-fakta yang ditemukan dan menjaga integritas data selama proses forensik dan hukum dengan proteksi fisik, penanganan khusus, pembuatan image, dan menggunakan algoritma HASH untuk pembuktian / verifikasi.
3. Merunut kejadian (chain of events) berdasarkan waktu kejadian.
4. Memvalidasi kejadian2 tersebut dengan metode “sebab-akibat”.
5. Dokumentasi hasil yang diperoleh dan menyusun laporan.
6. Proses hukum (pengajuan delik, proses persidangan, saksi ahli, dll).
Tools Yang Digunakan Untuk IT Audit dan Forensic
Hardware :

    Harddisk IDE & SCSI kapasitas sangat besar, CD-R, DVR drives.
    Memori yang besar (1-2GB RAM).
    Hub, Switch, keperluan LAN.
    Legacy hardware (8088s, Amiga, …).
    Laptop forensic workstations

Software :

    Viewers (QVP)
    http://www.avantstar.com/, http://www.thumbsplus.de/
    Erase / Unerase tools : Diskscrub / Norton utilities).
    Hash utility (MD5, SHA1).
    Text search utilities (dtsearch http://www.dtsearch.com/).
    Drive imaging utilities (Ghost, Snapback, Safeback,…).
    Forensic toolkits.
        Unix / Linux : TCT The Coroners Toolkit / ForensiX.
        Windows : Forensic Toolkit.
    Disk editors (Winhex,…).
    Forensic acquisition tools (DriveSpy, EnCase, Safeback, SnapCopy,…).
    Write-blocking tools (FastBloc http://www.guidancesoftware.com) untuk memproteksi bukti-bukti.

Sumber :
http://www.docstoc.com/docs/30950667/IT-Audit-and-Forensic
http://wsilfi.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/13308/ITAuditForensic.pdf
http://irmarr.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/11616/IT+Forensics.doc

Senin, 06 Mei 2013

Praktek-praktek kode etik dalam penggunaan teknologi informasi


1. Prinsip Integrity, Confidentiality dan Avaliability Dalam TI

Integrity
Integrity merupakan aspek yang menjamin bahwa data tidak boleh berubah tanpaijin pihak yang berwenang (authorized). Bisa juga disebut menjaga keutuhansesuatu yang sudah ditetapkan sebelumnya. Secara teknis ada beberapa carauntuk menjamin aspek integrity ini, seperi misalnya dengan menggunakanmessage authentication code, hash function, digital signature.

Confidentiality
Confidentiality merupakan aspek yang menjamin kerahasiaan data atauinformasi. Kerahasiaan ini dapat diimplementasikan dengan berbagai cara, sepertimisalnya menggunakan teknologi kriptografi dengan melakukan proses enkripsi(penyandian) pada transmisi data, pengolahan data (aplikasi dan database), danpenyimpanan data (storage). Akses terhadap informasi juga harus dilakukandengan melalui mekanisme otorisasi (
authorization) yang ketat. Sebagai contoh dari confidentiality adalah daftar pelanggan dari sebuah Internet Service Provider (ISP). Jadi, data dari daftar pelanggan tersebut seperti nama,alamat, nomor telephone dan data lainnya harus dilindungi agar tidak tersebarpada pihak yang tidak seharusnya mendapatkan informasi tersebut.

Avaliability
Availability merupakan aspek yang menjamin bahwa data tersedia ketika dibutuhkan. Jadi, pada prinsipnya ketersediaan data dan informasi yangmenyangkut kebutuhan suatu kegiatan merupakan suatu keharusan untuk menjalankan kegiatan tersebut. Jika avaliabillity data atau informasi yangdibutuhkan untuk menjalankan suatu proses kegiatan tidak dapat dipenuhi, makaproses kegiatan tersebut tidak akan terjadi atau terlaksana.


2. Privacy, Term & Condition Penggunaan TI

a. Privacy
Pada dasarnya, privacy ini sama dengan confidentiality. Namun, jika confidentiality biasanya berhubungan dengan data-data perusahaan atau organisasi, sedangkan privacy lebih ke arah data-data yang bersifat pribadi.

Contoh hal yang berhubungan dengan privacy adalah e-mail seorang pemakai tidak boleh dibaca oleh administrator. Hal ini untuk menjamin privacy dariisi e-mail tersebut, sehingga tidak bisa disalah gunakan oleh pihak lain.

b. Term & condition penggunaan TI
Term & condition penggunaan TI adalah aturan-aturan dan kondisi yang harusditaati pada penggunaan teknologi informasi. Hal tersebut mencakup integrity,privacy dan availability dari informasi yang terdapat dan dibutuhkan didalamnya.



3. Kode Etik Penggunaan Fasilitas Internet di Kantor
Kode etik penggunaan fasilitas internet di kantor hampir sama dengan kode etik pengguna internet pada umumnya, hanya saja lebih dititik beratkan pada hal-hal atauaktivitas yang berkaitan dengan masalah perkantoran di suatu organisasi atau instansi. Contohnya :
Menghindari penggunaaan fasilitas internet diluar keperluan kantor atau untuk kepentingan sendiri.
Tidak menggunakan internet untuk mempublikasi atau bertukar informasi internalkantor kepada pihak luar secara ilegal.
Tidak melakukan kegiatan pirating, hacking atau cracking terhadap fasilitas internet kantor.
Mematuhi peraturan yang ditetapkan oleh kantor dalam penggunaan fasilitas internet.
S
SUMBER: http://danangharda.blogspot.com

Wireless


Wireless Network merupakan Alat yang berfungsi untuk menggabungkan satu jaringan ke jaringan lain atau lebih tepatnya saling berhubungan dengan menggunakan internet.

Implementasi ini terjadi pada tingkat fisik (lapisan) dari struktur jaringan model OSI.

Jenis Jaringan :

1.      Wireless PAN
2.      Wireless LAN
3.      Wireless Jaringan Mesh
4.      MAN Wireless
5.      Wireless WAN

Peralatan yang digunakan dalam jaringan.

§           Perangkat keras

NIC ( Network Interface Card ).
Kabel.
Konektor.
Crimping
HUB
Switch.
Router.

§           Perangkat lunak

Disk Operating Sistem ( DOS ).
Network Operating Sistem ( NOS ).
Perangkat lunak aplikasi.

Definisi Dari Terminal Services?

Beberapa defini tentang Terminal Services adalah sebagai berikut:

1.         Pengembangan dari sistem operasi Windows yang memungkinkan user untuk menjalankan sistem operasi dan aplikasi yang berjalan di Windows melalui terminal emulasi "

2.         Merupakan fasilitas yang dapat di gunakan untuk memanfaatkan hardware dengan kemampuan rendah (lama) agar dapat menjalankan aplikasi terbaru"

3.         Sebuah layanan yang digunakan untuk mengakses data, aplikasi sampai desktop Windows yang terdapat di sebuah Komputer/Server jarak jauh melalui sebuah jaringan"